Siapa Saja Ateis Di Antara Kita?

Siapa Saja Ateis Di Antara KitaAwal bulan Januari 2012, seperti dilaporkan dalam surat kabar: lelaki bernama Alex Aan ditahan polisi karena tulisannya di Facebook “Tuhan tidak ada”. Alex juga sempat mengumumkan bahwa ia tidak percaya malaikat, setan, surga atau neraka.  Dan karena itu, ia dikenal sebagai seorang ateis. Saya tidak tahu apakah Alex telah berbuat hal lain, selain yang sudah disebut oleh koran, sehingga ia menghadapi ancaman 5 tahun penjara.  Tapi kasus ini membuat saya bertanya “Kenapa ateisme begitu disikapi dengan kecurigaan di Indonesia? Apakah seseorang yang menyatakan bahwa ia tidak percaya pada Tuhan benar-benar menyinggung agama? Apakah hanya ateis yang tidak percaya pada Tuhan? Dan Tuhan yang mana?”
Ateis secara umum diartikan sebagai “tidak percaya pada tuhan”. Sedangkan, di Indonesia, dikenal semboyan “Tuhan yang maha Esa”.  Tuhan itu satu.  Tapi bila Tuhan itu satu, mengapa titahnya begitu berbeda dari agama satu dan lainnya, dan bahkan bisa bertentangan?
Sebagai contoh, umat Islam memiliki buku suci mereka sendiri dan Allah sendiri, masing-masing terpisah dari orang-orang Kristen. Banyak Muslim dan Kristen akan menganggap dewa dalam bentuk seekor gajah atau monyet (dewa Hindu Ganesha dan Hanuman) hanyalah mitos. Saya kira, pemeluk agama Hindu tidak akan senang jika mereka harus menyembah Allah atau Yesus Kristus. Ini berarti bahwa jika Anda meyakini atau memeluk agama tertentu, Anda biasanya akan tidak percaya pada dewa-dewa atau Tuhan lain selain Tuhan agama Anda sendiri. Artinya, orang beragama bisa dianggap ateis (tidak mempercayai) tuhan dan dewa-dewa agama-agama lain.
Bahkan aliran yang berbeda dari agama yang sama dapat memiliki keyakinan yang berbeda. Pertimbangkan dua komunitas utama Islam di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. NU percaya bahwa tahlil (mengucapkan doa untuk orang mati) adalah suatu yang Islami, karena ritual tahlil adalah dzikir (mengingat dan menghormati Allah). Namun, praktik ini dianggap sesat oleh Muhammadiyah. Jadi, pujian untuk Allah bagi suatu aliran bisa dianggap sebaliknya oleh aliran lain.
Berbagai denominasi Kristen juga memiliki perbedaan mereka; Protestan dan Katolik, misalnya. Protestan tidak berdoa kepada Santa Perawan Maria. Alasannya? Mereka percaya bahwa Alkitab menyatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara manusia dan Tuhan. Berikut adalah petikan yang sering dikutip mereka: “Karena ada satu Allah, dan satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus ” (1 Timotius 2:5).  Protestan biasanya menganggap doa orang-orang Katolik terhadap Bunda Maria sebagai penyembahan berhala.
Di sisi lain, Katolik percaya bahwa karena Tuhan memilih perempuan ini untuk menjadi ibu dari Yesus, ada tempat khusus bagi sang Bunda dalam agama mereka.  Karena itu, penghormatan terhadap sang perempuan adalah rasa hormat kepada Allah dan mereka mempunyai berbagai pujian terhadap Maria. Bahkan, dalam doa Rosario, mereka harus mengucapkan berpuluh kali doa  ”Salam Maria“.
Ada lebih banyak lagi perbedaan antara Protestan dan Katolik, salah satu yang penting adalah kepercayaan antara surga dan neraka. Katolik percaya bahwa kebanyakan orang pada akhirnya akan pergi ke surga setelah mati (bahkan beberapa ajaran menyebutkan semua manusia akhirnya akan masuk surga). Namun, mereka yang dianggap belum “layak” untuk langsung menuju ke tempat indah ini karena dosa-dosa mereka, akan dikirim terlebih dahulu ke dalam api penyucian – yaitu, tempat untuk penyiksaan sampai mereka bersih dari kesalahan mereka.
Tetapi, tidak ada api penyucian dalam Protestan. Mereka biasanya percaya bahwa orang akan pergi ke surga atau neraka, tidak ada di antara keduanya. Jadi, dalam agama yang sama pun, Tuhan tampaknya memiliki aturan yang berbeda.  Memang, kebiasaan suatu agama atau bahkan aliran dapat dianggap di mata orang lain. Jika kita berbicara tentang agama-agama di dunia, bisa Anda bayangkan perbedaan mereka? Berapa macam surga, neraka dan dewa-dewa yang ada?

Ketika Agama Dianggap Ateis

Beberapa abad  yang lalu, Roma menganut paham politeisme (percaya terhadap banyak tuhan), dan pada umumnya cukup toleran terhadap agama-agama lain. Mereka bahkan sering mengadopsi dewa-dewa orang lain. Namun, kepercayaan pada satu Tuhan dianggap aneh bagi penduduk Mediterania kuno. Akibatnya, banyak orang Yunani, Romawi dan Mesir memandang dengan kecurigaan agama baru saat itu, Kristen. Bahkan, tersebar isu bahkan orang-orang Kristen itu kanibal, karena mereka memakan tubuh Kristus.  Dan mereka dianggap “ateis”.
Pada 64 M, selama pemerintahan Kaisar Nero (37-68), api mengoyak Roma selama enam hari. Kota Roma hampir hancur. Dalam kemarahan, rakyat menyalahkan Kaisar yang tidak bisa menangani tragedi ini. Nero segera menuding jarinya kepada orang-orang Kristen, untuk mengalihkan kemarahan rakyatnya. Nero memerintahkan beberapa pentolan kelompok “ateis” ini ditangkap. Orang-orang Kristen yang ditangkap ini, kemudian disiksa untuk menyerahkan nama orang-orang Kristen lainnya. Dan mereka-mereka ini dihukum, antara lain, dengan dijadikan santapan singa, dengan ditonton oleh publik Roma.

Ateis – Berbeda pada Waktu dan Tempat

Kristen adalah korban dalam cerita itu, tapi mereka kemudian menjadi para penganiaya di lain waktu. Selama Perang Salib, orang-orang Kristen menyatakan perang terhadap kaum politeis dan Muslim. Intinya adalah, dalam era yang berbeda dan di tempat yang berbeda, berbagai dewa atau tuhan dapat dianggap lebih benar dan asli daripada yang lain. Yang dianggap sebagai ateis juga dapat bervariasi. Bila dulu, Kristen dianggap ateis oleh para politeis Roma, pada jaman lainnya orang Kristenlah yang menuduh politeis sebagai ateis. Seringkali, kita dapat dianggap ateis oleh orang-orang dengan sistem kepercayaan yang berbeda.Karena itulah, Stephen Roberts yang mendeklarasikan dirinya sebagai ateis, pernah berkata: “Sebenarnya kita berdua adalah ateis. Aku hanya percaya pada satu tuhan lebih sedikit daripada Anda.”
Baca SelengkapnyaSiapa Saja Ateis Di Antara Kita?

Radja - AW Original (Video Clip)

Pembuatan video clip Radja - Aw
Pada artikel sebelumnya saya pernah share tentang lagu radja yang judulnya 2012 disini, dan liriknya disini..
Nah sekarang saya mau memberitahukan bahwa lagu tersebut sudah diaransemen ulang dan sudah jadi bagian single lagu di album terbaru radja..
Berikut video clip yang sudah diaransemen ulang tersebut dan diubah judulnya menjadi Aw..



sekian..
Baca SelengkapnyaRadja - AW Original (Video Clip)

Agnostic ( pemikiran jalan tengah )

Menurut Kamus Bahasa Indonesia keluaran Pusat Bahasa, agnostic dideskripsikan sebagai “ Orang yg berpendapat bahwa tiada sesuatu yg dapat diketahui tentang Tuhan selain dari hal-hal kebendaan. ”  Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikannya sebagai “ Orang yang berpandangan bahwa kebenaran tertinggi (misal Tuhan) tidak dapat diketahui dan mungkin tidak dapat diketahui. ”
Saya lebih suka mengatakan, Aghnostic orang yang tidak percaya apa yang dikatakan oleh agama, tapi dia percaya adanya Tuhan ( kebenaran tertinggi ), walaupun bagi orang agnostic masih ada sisa pertanyaan, yakni apakah Tuhan bisa “diketahui” oleh manusia ?. Saya memberikan tanda petik pada kata “ diketahui,” karena makna kata tersebut sangat luas, bukan hanya sekedar diketahui seperti kita mengetahui sesuatu materi dengan gamblang. Dari pengertian diatas bisa disimpulkan, bahwa orang Agnostik memang cenderung percaya akan adanya Tuhan ( entitas yang luar biasa ). Beda dengan Ateis yang tidak percaya dengan adanya Tuhan, apalagi agama. Agnostic mengakui adanya kebenaran tertinggi, tapi tidak mungkin bisa diketahui oleh manusia, apalagi oleh dogma agama. Itu pendapat Agnostic. Dan bagi saya memang masuk akal. Kita manusia hanya bisa menebak nebak saja. Tidak ada yang menjamin kebenaran agama 100%, kecuali tentu saja, oleh penganut agama itu sendiri.
Agnostik selalu bertanya tanya, keberadaan akan Tuhan. Mirip orang orang yang belajar Tasawuf atau Sufi. Kalau Tuhan dianggap tidak ada, kok ada saya ?. Kalau dianggap ada, terus bagaimana membuktikannya ?, bagaimana mengetahuinya ?, dan dimana ?. Tapi bagi orang ber-agama, sangat simpel untuk mengetahuinya, dasarnya adalah keyakinan, iman. Bahwa apa yang ada di dunia ini tak mungkin tak ada yang menciptakannya. Agnostic percaya itu, tapi masih tetap ada pertanyaan besar bagaimana mengetahui si pencipta. Ada keraguan agnostic disana. Beberapa kalangan menyebut agnostic mirip dengan skeptis.
Agnostic bukanlah orang murtad atau menghujat Tuhan seperti orang Ateis. Kita simak kata Clarence Darrow (1857 – 1938), seorang penganut Agnostik.
“Aku tidak menganggap bahwa disebut agnostic adalah hinaan, tetapi itu lebih merupakan pujian. Aku tidak berpura-pura tahu ketika banyak orang yang tidak tahu justru yakin.”
Intinya, Agnostic itu tidak pura pura. Menjadi Agnostic itu menurut penganutnya sangat membanggakan. Sangat oke..! Keren…!
Kita simak lagi apa kata penganutnya yang lain, Robert Green Ingersoll (1833-1899). ;
“Aku percaya bahwa kebahagiaan adalah satu-satunya hal baik, dan cara untuk bisa bahagia adalah membuat orang lain bahagia ”
Hebat bukan pedoman orang Agnostic. Tidak seperti Ateis yang suka menghujat Tuhan, dianggap Tuhan tidak ada. Namun umat ber-agama justru saling klaim, bahwa agama dia yang paling bener, dan saling menghujat serta saling menghancurkan. Apakah hal semacam itu dianggap baik…?
Pendapat pendapat tokoh Agnostic, sangat baik, humanis, sangat manusiawi. Dimana dia mementingkan hubunga antar manusia daripada saling menghujat dan saling perang antar ego kelompok. Mereka mengakui adanya kekuatan besar yang ada di sekitar kita. Sebuah kekuatan yang tak mungkin dijangkau oleh manusia. Mereka mengakui bahwa seseorang yang berbuat baik akan mendapatkan sesuatu yang baik, begitu sebaliknya. Tapi mereka masih bertanya tanya, apakah sorga dan neraka itu benar benar ada…? Sikap skeptis inilah yang mendasari Agnostik tidak percaya pada dogma dogma agama. Agama bagi mereka, hanyalah undang undang yang dibuat manusia dengan meminjam nama Tuhan.
Para agnostic mengatakan, bahwa agnostic adalah pilihan paling logis daripada Teis ataupun Ateis. Karena mereka menganggap ajaran Teis ( agama ) adalah sesuatu yang tidak logis. Ajaran tersebut cenderung dipergunakan untuk kepentingan kelompok kelompok. Susahnya lagi, Teis kalau dikritik, malah ngamuk. Kadang diantara orang beragama menggunakan agamanya untuk men justifikasi ( memberikan cap ) orang orang yang tak sepaham atau orang yang tak disukai. Tentu saja justifikasi yang mereka berikan pasti nama jelek, atau menjelekan. Bukankah itu sama dengan fitnah ?, meng-atas namakan agama. Misalnya, bid’ah, kafir, murtad… dsb. Jadi untuk apa ribet ribet menggunakan aturan aturan agama kalau pada akhirnya kita meng kafirkan dan memusuhi orang lain…? Kenyataanya memang itulah yang terjadi, banyak orang beragama membuat orang lain menjadi bisa dijauhi orang lainnya, berimbas pada pergaulan sosialnya, kondisi kehidupan orang tersebut menjadi terhambat. Hanya karena kata kata ( fatwa ) sang tokoh agama. Kalau sudah begitu…, siapakah yang layak masuk neraka…? ( kalau Teis percaya ada neraka ).
Agnostic bisa mengakomodasi semua aturan aturan agama di dunia. Misalnya masalah dosa, orang agnostic menganggap perbuatan tidak baik. Perbuatan tidak baik akan ada balasannya saat itu juga. Siapa yang menabur sesuatu, akan menuai sesuatu juga. Perbuatan akan terbalaskan sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukan. Misalnya lagi tentang karma. Kalau kamu bohong, kamu akan disebut pembohong. Dan satu saat kamu juga akan kena batunya, akibatnya ( karmanya ) kamu tidak dipercaya orang lagi. Coba kita simak salah satu pemikiran agnostic :
“ Kenapa saya memilih agnostic, karena agnostic ini yg paling logis dari yg lain. THEISME , saya merasa dalam theisme banyak sekali hal yg tidak logis, dan saya berprasangka bahwa ajaran 2 THEISME diciptakan oleh manusia dan digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Saya sering berdiskusi dengan orang THEISME, dari diskusi saya, pada intinya mereka menjawab bahwa dalam memahami keTUhanan kita jangan mengandalkan dan bersandar pada logika.. untuk sementara saya menganggap bahwa itu jawaban orang yg kehabisan jawaban.. Jadi kenapa saya tidak memilih THEISME karena saya tidak setuju dengan beberapa ketidakmasuk akal dalam THEISME.
ATHEIS, kenapa saya tidak memilih ATHEIS? karena saya masih berkeyakinan bahwa segala sesuatu itu ada tidak mungkin ada dengan sendirinya.. saya blm dapat mempercayai bahwa ada berasal dari ketidakadaan mutlak. Jadi, pandangan agnostic saya. saya jelas meyakini bahwa Tuhan itu ADA dan DIA yg menciptakan alam semesta.. jadi agama saya apa? Agamanya Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan nya siapa? Tuhan Yang Maha Esa. Terima kasih, mohon maaf bila ada yg kurang berkenan. SALAM. “
Pemikiran Agnostik tentang dosa :
“ Ga ada yg namanya dosa, yg ada perbuatan yg tidak baik. Yg termasuk dalam perbuatan yg tidak baik antara lain:
  •  Menyakiti atau merugikan sesama, sadar atau engga.
  •  Menyakiti makhluk lain.
  •  Melakukan sesuatu yg secara ga langsung berdampak buruk buat sesama
  •  Melanggar hukum/norma resmi di lingkungan sekitar
Mungkin masih ada sih yg lain sih, saat ini cuman kepikir segitu. Bottom line is, gue gak ada tanggung jawab sama tuhan/dewa dewi/whatever. Tanggung jawab gue sama hidup gue sendiri, sesama manusia dan lingkungan sekitar. Kalo gue merasa guilty karena gue berbuat salah, gue merasa guilty bukan karena gue takut masuk neraka atau takut dimarahin tuhan, tapi emang karena gue berbuat salah, plain and simple. “
“ gw bukan agnostik, tapi kalau gw agnostic, mungkin gw akan menganggap dosa itu sebagai rasa bersalah [guilty] karena telah melakukan yang suatu masyarakat anggap itu tidak baik atau melanggar norma2 yang udah terbentuk dalam masyarakat sejak dulu, sehingga perasaan bersalah itu menjadi beban bagi diri kita sendiri.”
“ Kalo gw agnostic, gw juga bakal ngerasa dosa itu = guilty. Karena pada dasarnya semua manusia, aturan hidup bersosial itu adalah norma dan guilty itu juga bakal kepentok sama norma itu sendiri, makanya sekalipun gw hanya agnostik misalkan, gw bakal tetep mengikuti norma yang ada “
“ Kalo gw agnostik gw juga akan menghargai mereka yang para theis, monotheis, polytheis, pluralis karena gw merasa bahwa gw dan mereka adalah sama, sama-sama mempercayai ada-nya suatu entitas yang lebih besar di belakang manusia, beda-nya mereka berjalan lewat jalur organisasi [resmi la istilah-nya] sedangkan kan berjalan dengan jalur bebas. ”
Pemikiran Agnostik tentang karma :
“ ….kalau apa yang kamu tabur tetep aja bakal kamu tuai, jangan harap kalo lu males mau jadi kaya, jangan harep klo lo tukang bohong mau dipercaya, jangan harap bencana alam gak bakal terjadi kalau lu gak jaga alam, maka-nya gw bilang semua tergantung dari diri kita sendiri, dan untuk apa yang buruk terjadi adalah akibat perbuatan kita sendiri, jadi jangan pernah deh nyalain si takdir, kasian takdir di kambing hitamkan, cere salain takdir, orang mati salain takdir, bencana alam salain takdir. “
“ betul tuh, karma itu sekalipun kita seorang yang agnsotik pasti ada karena relasi karma itu bukan karena agama, tapi karena kehidupan. ky contoh diatas, kalo elu sering bohong, ya akibatnya elu dicap sebagai pembohong kalo udah dicap pembohong, secara ngga langsung juga elu membohongi diri sendiri dan akibatnya elu sendiri yang kena batunya, sekalipun elu ngomong kebenaran suatu saat nanti ya bakalan ga ada yang percaya “.
Sangat jelas dan gamblang cara berpikir mereka , masuk akal serta brilian, mirip cara berpikir Ateis. Kenapa mereka memilih Agnostik…? Dari beberapa pemikiran yang saya copas, sangat jelas, mereka tak mau terkotak kotak, apalagi diperalat sama yang namanya agama. Kejujuran dan apa adanya serta bersosialisasi dengan mahluk lain, adalah inti dari kehidupan yang sebenarnya daripada sekedar ber-agama. Mereka tak mau menerima dogma dogma atau doktrin agama begitu saja tanpa nalar yang jelas. Keyakinan adalah sesuatu yang absurd bagi mereka, kalau tak boleh di sebut kebohongan.
Agnostik meyakini sesuatu yang luar biasa yang menguasai segalanya di sekeliling mereka, tapi juga tidak yakin sesuatu yang luar biasa itu bisa dibuktikan ada.
Orang ber agama menyebut sesuatu yang luar biasa yang melingkupi kehidupan di dunia ini adalah TUHAN.
Sungguh kebesaran Tuhan yang luar biasa dan begitu mulia serta beragam. Maka belajar mengenal segalanya adalah kunci manusia untuk segala bentuk dalam memilih suatu kehidupannya. Jangan bicara soal salah dalam masalah ini. Karena anggapan salah dalam soal ini, adalah tak sepaham atau tak segolongan.
Tuhan telah memberikan semuanya dengan segala akibatnya. Silahkan memilih dengan segala pemikiran dan keyakinan masing masing. Maha besar Tuhan dengan segala ciptaannya.
Oleh. Didik Suwitohadi
21-03-2012.

Baca SelengkapnyaAgnostic ( pemikiran jalan tengah )

Karbu Community


Karbu Community adalah perkumpulan dari anak-anak kelas TKJ SMK Negeri 2 Denpasar sejak pertengahan tahun 2010, memiliki 5 anggota yaitu Natha, Frendi, Kardiasa, Sugiantara dan aku sendiri Yoga, sementara ada juga tambahan anggota yaitu Resnu di tahun 2011 dan juga Raka di bulan Desember tahun 2012..

 

Natha, Kardiasa, Frendi, Resnu, Yoga, Sugiantara (dari kiri)


cover album "one direction" hahahahahaha :D




dan ini adalah fotoku sendiri.. :)


 


Awalnya karena kita setiap ada tugas kelompok yang jumlahnya maksimal 5 orang, kita berlima selalu saja menjadi 1 kelompok, dan sampai akhirnya kita mendapat tugas membuat tarian kreasi, dari sanalah kita mulai membuat nama untuk kelompok kita.. kita sepakat menamai kelompok kita dengan nama Karbu karena terinspirasi dari nama salah satu anggota kita yaitu Kardiasa..


Dan mudah-mudahan kelompok ini tetap bertahan sampai seterusnya..

sekian..
Baca SelengkapnyaKarbu Community

Radja - Kau Adalah Aku

Cintaku, aku tak bisa hidup tanpamu
Aku tak bisa jauh darimu
Sungguh ku tak bisa
Bila tanpamu..

Cintaku, hanya kau yang ada di otakku
Namamu berdetak di jantungku
Hiasi hatiku
Indahkan niatku..

Kau di hatiku, aku dihatimu
Kau di jantungku, aku di tanganmu
Kau adalah diriku, dan aku adalah dirimu

Reff:
Bila kau sakit, aku yang terluka
Dan bila kau sedih, aku yang menangis
Bila ku cinta, kamulah cintaku
Sumpah matiku, kau adalah AKU.. 


DOWNLOAD - MP3
Baca SelengkapnyaRadja - Kau Adalah Aku